BIRRUL WALIDAIN (Berbakti kepada kedua Orang Tua)

February 19, 2009 at 4:00 am Leave a comment

PENGAJIAN KENKYUSHEI IMARI

“B I R R U L   W A L I D A I N”

                                                Berbakti Kepada Orang Tua

 

Bismillahirahmaanirrahiim,

Assalaamu’alaikumm Wr.Wb.

 

Khalifah Umar bin Abdul Aziz mempunyai beberapa orang anak, salah satu diantaranya adalah Abdul Malik bin Umar. Dia masih muda tetapi ketaqwaan dan kezuhudannya selalu menghiasi lembaran hidupnya.

 

Alkisah, ketika khalifah Umar tiba di rumah, sepulang mengurus jenazah Sulaiman, datanglah Abdul Malik menghampirinya. Ia bertanya, “Wahai amirul mukminin, gerangan apakah yang membaringkan Anda di siang bolong ini ?” Umar bin Abdul Aziz sempat kaget, tatkala putranya memanggilnya dengan Amirul Mukminin, bukan dengan panggilan ayah. Ini mengisyaratkan putranya ingin mempertanyakan tanggung jawab ayahnya sebagai pemimpin negara, bukan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

 

“Aku letih dan butuh istirahat”, jawab sang ayah.

 

“Pantaskah Anda beristirahat padahal banyak rakyat yang tertindas ?”

 

“Wahai anakku, semalam suntuk aku menjaga pamanmu. Nanti setelah sholat Zhuhur aku akan mengembalikan hak-hak orang yang teraniaya”.

 

“Wahai amirul mukminin, siapakah yang menjamin Anda hidup sampai Zhuhur, jika Alloh mentakdirkanmu mati sekarang ?” Mendengar ucapan sang anak, Umar bertambah terperanjat.

 

Beliau memerintahkan anaknya mendekat, maka diciumlah pemuda itu sambil berkata “Segala puji bagi Alloh yang telah memberiku seorang anak yang telah membantuku menegakkan agama”. Selanjutnya beliau perintah juru bicaranya mengumumkan kepada seluruh rakyat. “Barang siapa yang merasa dianiaya, hendaknya mengadukan nasibnya kepada khalifah”.

Itulah salah satu cuplikan kehidupan Abdul Malik, seorang pemuda yang shaleh dan bertanggung jawab. Meskipun Alloh memberinya usia relatif singkat, kurang dari dua puluh tahun, namun hidupnya diwarnai ketaqwaan, ibadah dan amar ma’ruf nahi mungkar. Dia tidak segan menegur ayahnya saat dilihatnya lalai dalam menjalankan amanah. Dia tidak sungkan menasihati ayahnya agar selalu teguh pada hukum Alloh dalam setiap gerak langkahnya. Dia tahu semua itu adalah kewajiban yang harus disampaikan dan bentuk implementasi birul walidain (bakti kepada ibu bapak).

 

Birul walidain adalah hak setiap orang tua. “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya” (QS 29:8). Ia tidak hanya berupa taat, patuh atau turut kepada kehendak orang tua, sebagaimana dipahami oleh sebagian orang. Namun ia lebih dari itu.

 

Birul walidain adalah nasihat anak kepada orang tua manakala mereka sedang meniti jalan dosa. Alloh SWT bercerita tentang nabi-Nya Ibrahim AS yang menasihati ayahnya ketika sang ayah menyembah berhala, “ Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syeitan. Sesungguhnya syeitan itu durhaka kepada Alloh Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Alloh SWT, maka kamu menjadi kawan bagi syeitan” (QS 19:44-45).

 

Mungkin masih banyak di antara kita yang orang tuanya masih terperangkap dosa. Sayangnya banyak pula di antara orang-orang muda yang bergelut di jalan dakwah membiarkan orang tuanya tersesat. Padahal mereka lebih berhak didakwahkan ketimbang orang lain.

 

Birul walidain juga menuntut mu’asyarah bi ma’ruf (bergaul dengan baik) kepada orang tua. Alloh SWT berpesan, “Dan bergaullah kepada keduanya di dunia dengan baik” (QS 31:15). Dalam sejarah perjalanan dakwah Islam, banyak sekali ditemukan tokoh-tokoh simpatik yang melegendakan karena baktinya kepada kedua orang tua. Saad bin Abi Waqqas, sebagai contoh, meskipun ibunya musyrik dan mengancam mogok makan jika anaknya tidak mau kembali ke agama semula, beliau tetap menghormati ibunya dan memperlakukannya dengan baik. Bukan sesuatu yang terpuji, jika seorang muslim tidak menghormati dan menghargai orang tuanya. Hanya karena beda visi dalam memandang Islam, orang tua divonis kafir atau musyrik.

 

Banyak sekali contoh kesenjangan yang sebetulnya tidak akan terjadi jika anak mampu menempatkan permasalahan secara wajar. Sebagai contoh kasus pernikahan atau walimah. Banyak orang tua tidak setuju pemisahan antara undangan pria dan wanita. Itu terjadi karena selama ini tradisi yang ada membenarkan dicampurnya undangan pria dan wanita pada satu ruangan. Apatah lagi tradisi tersebut dilegalisir oleh sebagian orang yang dianggap berilmu dan shaleh. Kalau saja hubungan sang anak dengan orang tuanya baik, tentunya dia akan mendapatkan kemudahan dalam menghidupkan salah satu sunnah Rasululloh SAW, tanpa harus timbul konflik berkepanjangan.

 

Kita yakin semua orang tua menginginkan anak yang shalih dan bakti seperti Abdul Malik bin Umar. Kita semua tidak pernah mendambakan anak durhaka. Namun yang menjadi pertanyaan, “Apakah kita sudah berbakti kepada orang tua sehingga mengharap keturunan yang baik?” Bukankah ada pepatah, “Bagaimana mungkin bayangan akan lurus jika tongkatnya bengkok ?” Dan bagaimana mungkin pula anak akan berbakti kepada orang tua jika orang tuanya durhaka. Ingat pesan Rasululloh SAW, “ Berbaktilah kepada kedua orang tua kalian, niscaya akan berbakti pula anak-anak kalian” (HR. Thabrani).

 

Sebagai seorang yang muslim yang taat, kita dituntut berlaku bijaksana dalam menghadapi berbagai keganjilan yang ada pada orang tua. Jika mereka belum mau sholat, menutup aurat, dan belum siap menghidupkan sunah Rasululloh SAW, kewajiban kita hanya mengingatkan mereka dan tidak ada hak untuk memaksa kehendak. Kalau saja Sa’ad bin Abi Waqqas, Asma binti Abu Bakar diperintahkan untuk berbuat baik kepada ibu mereka yang musyrik, apalagi kita yang mempunyai orang tua yang muslim, tentu mereka lebih berhak untuk dihormati dan dihargai.

 

Kemungkaran dan kebatilan yang dilegalisir sekarang ini, adalah hasil dari musuh-musuh Islam yang prosesnya sudah berjalan lama. Dan untuk mengembalikannya kepada Al-Haq tentunya butuh waktu lama. Itulah yang disampaikan Umar bin Abdul Aziz kepada anaknya ketika sang anak bertanya kenapa kemungkaran yang ada tidak dicegah secepatnya. Kata Umar, “ Hai anakku, umat telah melepaskan ikatan Islam sedikit demi sedikit. Jika aku hapuskan dalam sehari saja, aku khawatir umat akan memberontak dan darah tertumpah. Demi Alloh hancurnya dunia lebih ringan bagiku daripada tumpahnya setitik darah karena diriku”.

 

Wabilahi taufiq walhidayah

 

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

Entry filed under: Siraman Rohani. Tags: .

AFATUL LISAN Asuransi Mubarokah – coba RJ di RS Mitra Keluarga Depok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: