AFATUL LISAN

February 19, 2009 at 3:48 am 1 comment

                                     AFATUL LISAN

 

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku,”Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar) sesungguhnya syeitan itu menimbulan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syeitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” QS 17:53.

 

1. Perintah Berkata Baik

 

Kemampuan bicara adalah salah satu kelebihan yang Alloh berikan kepada manusia, untuk berkomunikasi dan menyampaikan keinginan-keinginannya dengan sesama manusia. Ungkapan yang keluar dari mulut manusia bisa berupa ucapan baik, buruk, keji dsb.

 

Agar kemampuan berbicara yang menjadi salah satu cirri manusia ini menjadi bermakna dan bernilai ibadah, Alloh SWT menyerukan umat manusia untuk berkata baik dan menghindari perkataan buruk. Alloh SWt berfirman :

“Dan katakana kepada hamba-hamba-Ku,”Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar) sesungguhnya syeitan itu menimbulan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syeitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” QS 17:53.

 

“Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”QS. 16:125

 

Rasululloh SAW bersabda :

“Barang siapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” HR Muttafaq alaih

 

“Ucapan yang baik adalah sedekah” HR. Muslim

 

2. Keutamaan Diam

 

Bahaya yang ditimbulkan oleh mulut manusia sangat besar, dan tidak ada yang dapat menahannya kecuali diam. Oleh karena itu dalam agama kita dapatkan anjuran diam dan perintah pengendalian bicara. Sabda Nabi :

“Barang siapa yang mampu menjamin kepadaku antara dua kumisnya (kumis dan jenggot), dan antara dua pahanya, saya jamin dia masuk surga” HR AL Bukhary.

 

“Tidak akan istiqomah iman seorang hamba sehingga istiqomah hatinya. Dan tidak akan istiqomah hati seseorang sehingga istiqomah lisannya.” HR Ahmad.

 

Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada sesuatupun yang perlu lebih lama aku penjarakan daripada mulutku sendiri”.

 

Abu Darda berkata, “Perlakukan telinga dan mulutmu dengan obyektif. Sesungguhnya diciptakan dua telinga dan satu mulut, agar kamu lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

 

3. Macam-Macam Afatul Lisan, penyebab dan terapinya

 

Ucapan yang keluar dari mulut kita dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok, ucapaan yang membahayakan, tidak membahayakan dan tidak ada manfaat, serta ucapan yang baik/menguntungkan.

 

Insya Alloh berikut ini akan kita bahas bahaya lisan dari yang paling tersembunyi sampai yang paling berbahaya, yaitu :

 

a. Berbicara sesuatu yang tidak perlu

Ucapan yang tidak perlu adalah ucapan yang seandainya kita diam tidak berdosa, dan tidak akan membahayakan diri maupun orang lain. Seperti misalnya menanyakan sesuatu yang tidak diperlukan. Pertanyaan ini biasanya disebabkan oleh keinginan kuat untuk mengetahui segala sesuatu, atau basa basi untuk menunjukkan perhatian atau sekedar mengisi waktu dengan cerita-cerita yang tidak berguna.

Terapinya adalah dengan menyadarkan bahwa waktu adalah modal yang paling berharga. Dan selanjutnya menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulut akan dimintai pertanggungjawabannya. Secara aplikatif kita coba melatih diri senantiasa diam dari hal-hal yang tidak diperlukan.

Rasululloh SAW bersabda, “Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia perlukan” HR At Tirmidzi.

 

b. Berlebihan dalam berbicara (Fudhulul kalam)

Perbuatan ini dikategorikan sebagai perbuatan tercela. Ia mencakup pembicaraan yang tidak berguna, atau bicara sesuatu yang berguna namun melebihi kebutuhan secukupnya.

Rasululloh SAW bersabda, “Beruntunglah orang yang dapat menahan kelebihan bicaranya, dan menginfaqkan kelebihan hartanya.”

 

Ibrahim At Taymiy berkata : Seoarang mukmin ketika hendak berbicara, ia berfikir dahulu, jika bermanfaaat dia ucapkan, dan jika tidak maka tidak diucapkan. Sedang orang fajir (durhaka) sesuangguhnya lisannya mengalir saja.

 

c. Melibatkan diri dalam pembicaraan batil

Pembicaraan batil adalah pembicaraan maksiat. Rasululloh SAW bersabda : “Orang yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah orang yang paling banyak terlibat dalam pembicaraan batil” HR Ibnu Abiddunya.

 

Terhadap orang-orang yang memperolokan AlQuran, Alloh SWT memperingatkan orang-orang beriman, “….maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat seperti itu) tentulah kamu serupa dengan mereka.” QS. 4:140)

 

d. Berbantahan dan Perdebatan (Al-Jidal)

Perdebatan yang tercela adalah usaha menjatuhkan orang lain dengan menyerang dan mencela pembicaraannya, menganggapnya bodoh dan tidak akurat. Biasanya orang yang diserang merasa tidak suka, dan penyerang ingin menunjukkan kesalahan orang lain agar terlihat kelebihan dirinya.

Hal ini biasanya disebabkan oleh taraffu (rasa tinggi hati) karena kelebihan ilmunya, dengan menyerang kekurangan orang lain.

Rasululloh SAW bersabda : ”Tidak akan tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan hidayah Alloh, kecuali mereka melakukan perdebatan”.

 

e. Pertengkaran (Al Khusumah)

Jika orang yang berdebat  menyerang pendapat orang lain untuk menjatuhkan lawan dan mengangkat kelebihan dirinya, maka al khusumah adalah sikap ingin menang dalam berbicara (ngotot) untuk memperolah hak atau harta orang lain yang bukan haknya. Sikap ini bisa merupakan reaksi atas orang lain, bisa juga dilakukan dari awal berbicara.

Dari Aisyah ra, Rasululloh SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling dibenci Alloh adalah orang yang bermusuhan dan suka bertengkar” HR Al Bukhari

 

f. Berkata keji, Jorok dan caci maki

Berkata keji, jorok adalah pengungkapan sesuatu yang dianggap jorok/tabu dengan ungkapan vulgar.

Rasululloh SAW bersabda, “Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghujat, mengutuk, berkata keji dan kotor”. HR At Tirmidzi.

 

Ada seorang A’rabiy (pendalaman) meminta wasiat keapda Nabi, Rasululloh SAW bersabda,  Bertaqwalah kepada Alloh, jika ada orang yang mencela kekurangannmu, maka jangan kau balas dengan mencela kekurangannya. Maka dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Dan janganlah kamu mencaci maki siapapun.” HR Ahmad.

 

Termasuk dalam dosa besar adalah mencaci maki orang tua sendiri” Para sahabat bertanya :”Bagaimana seseorang mencaki maki orang tua sendiri ? Jawab Nabi :”Dia mencaci maki orang tua orang lain, lalu orang itu berbalik mencaci maki orang tuanya”. HR Ahmad.

 

Perkataan keji dan jorok disebabkan oelh kondisi jiwa yang kotor, yang menyakiti orang lain, atau karena kebiasaan diri akibat pergaulan dengan orang fasik dan orang-orang durhaka lainnya.

 

g. Senda gurau ( al mazah)

Secara umum mazah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama, kecuali sebagian kecil saja yang diperbolehkan. Sebab dalam gurauan seringkali terdapat kebohongan, atau pembodohan teman. Gurauan yang diperbolehkan adalah gurauan yang baik, tidak berdusta/berbohong, tidak menyakiti orang lain, tidak berlebihan dan tidak menjadi kebiasaan.

 

Kebiasaan bergurau akam membawa seseorang pada perbuatan yang kurang berguna. Disamping itu kebiasaan ini akan menurunkan kewibawaan.

 

Umar bin Khattab berkata : “Barang siapa yang banyak bercanda, maka ia akan diremehkan/dianggap hina.”

 

Said bin al Ash berkata kepada anaknya : “ Wahai anakku, janganlah bercanda dengan ornag mulia, maka ia akan dendam kepadamu, jangan pula bercanda dengan bawahan maka nanti akan melawanmu”

 

h. Ejekan (sukhriyyah) dan Cemoohan (Istihza)

Sukhriyyah berarti meremehkan orang lain dengan mengingatkan aib/kekurangannya untuk ditertawakan, baik dengan cerita lisan atau peragaan di hadapannya. Jika dilakukan tidak dihadapan orang yang bersangkutan disebut ghibah (bergunjing).

 

QS 49:11

 

i. Menyebarkan rahasia

Menyebarkan rahasia akan mengecewakan orang lain dan meremehkan hak orang lain.

 

j. Janji palsu

Mulut seringkali cepat berjanji, kemudian hati mengoreksi dan memutuskan tidak memenuhi janji itu. Sikap ini menjadi pertanda kemunafikan seseorang.

 

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu….”. QS 5:1

Rasululloh SAW bersabda : “Ada tiga hal yang jika ada pada seseorang maka dia adalah munafiq, meskipun puasa, sholat, dan mengaku muslim. Jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khianat” Muttafaqalaih

 

k. Bohong dalam berbicara dan bersumpah

Berbohong dalam hal ini adalah dosa yangpaling buruk dan cacat yang paling busuk. Rasululloh SAW bersabda : “Sesunguhnya berbohong akan menyeret orang untuk curang. Dan kecurangan akan menyeret orang ke neraka. Dan sesungguhnya seseorang yang berbohong akan terus berbohong hingga ia dicatat di sisi Alloh sebagai pembohong” Muttafaq alaih.

 

“Ada tiga golongan yang Alloh tidak akan menegur dan memandangnya di hari kiamat, yaitu : orang yang membangkit-bangkit pemberiannya, orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu, dan orang yang memanjangkan kain sarungnya” HR Muslim.

 

l. Bergunjing (Ghibah)

Ghibah adalah perbuatan tercela yag dilarang agama. Rasululloh SAW pernah bertanya kepada para sahabat tentang arti ghibah. Jawab para sahabat :”Hanya Alloh dan Rasul-Nya yang mengetahui”. Sabda Nabi : “Ghibah adalah menceritakan sesuatu dari saudaramu, yang jika ia mendengarnya ia tidak menyukainya”. Para sahabat bertanya :”Jika yang diceritakan itu memang ada ?” Jawab Nabi : “Jika memang ada itulah ghibah, jika tidak ada maka kamu mengada-ada.” HR Muslim.

 

Al Quran menyebut perbuatan ini sebagai memakan daging saudara sendiri (QS 49:12).

 

Ghibah bisa terjadi dengan berbagai macam cara, tidak hanya dengan ucapan, bisa juga tulisan, peragaan dsb.

 

Hal-hal yang mendorong terjadinya ghibah adalah hal-hal berikut :

·         Melampiaskan kekesalan/kemarahan.

·         Menyenangkan teman atau partisipasi bicara/cerita.

·         Keinginan ingin bergaya dan berbangga, dengan mencela lainnya.

·         Hasad/iri dengan orang lain.

·         Bercanda dan bergurau, sekedar mengisi waktu.

·         Menghina dan meremehkan orang lain. Dll

 

Terapi ghibah sebagaimana terapi penyakit akhlaq lainnya yaitu dengan ilmu dan amal.

 

Menceritakan kekurangan orang lain dapat dibenarkan jika terdapat alasan sebagai berikut :

·         Mengadukan kezaliman orang lain kepada qadhi.

·         Meminta bantuan untuk merubah kemunkaran.

·         Memperingatkan kaum muslimin atas keburukan seseorang.

·         Orang yang diceritakan aibnya, melakukan itu dengan ternag-terangan (mujahir).

Entry filed under: Siraman Rohani. Tags: .

Pedulilah dengan Kesehatan Anda ! BIRRUL WALIDAIN (Berbakti kepada kedua Orang Tua)

1 Comment Add your own

  • 1. Devi afrizal  |  March 26, 2009 at 4:22 pm

    Alhamdulilah walau sy blm baca semua tausiah nya . Tp yokatta serasa lg terbang ke tosu untuk dengerin nya dan kmpl ma kawan2. Domo arigato gozaimasu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: